Pengembangan Karir – Pemimpin Emosi

Share Social

Pengembangan Karir – Pemimpin Emosi

pengembangan karir pemimpin emosi

Saya seorang Manager yang membawahi satu tim yang kurang lebih beranggotakan 20 orang. Pimpinan saya sering tidak ada di kantor, karena ia juga sibuk mengurusi bisnisnya yang lain.  Untuk pengawasan perusahaan ini, ia meminta orang kepercayaannya untuk ikut memantaunya. Tapi ia juga tidak bisa hadir rutin karena juga bekerja di Instansi lain. Akibatnya semua urusan kantor diserahkan ke saya dan saya harus mengerjakan semua  pekerjaan dari A sampai Z.

Yang membuat situasi selalu mencekam adalah bukan ketidakberesan tugas yang tidak selesai dikerjakan. Karena sebenarnya semua target dan tugas yang harus saya kerjakan telah terpenuhi. Ketika laporan saya serahkan dalam rapat rutin yang diadakan, ia tidak pernah berkomentar negatif dengan hasil kerja saya. Tetapi dalam uring-uringannya selalu menyinggung hal-hal lain yang tidak secara langsung berhubungan dengan pekerjaan. Misalnya kebersihan kantor, katering, pemakaian telepon dan lain-lain. Kondisi demikian ini berdampak pada situasi yang tidak menyenangkan di kantor. Akibatnya bawahan sering mengharapkan ia tidak muncul di kantor. Tapi buat saya, kehadirannya sangat penting karena pada saati itu kesempatan saya untuk berkonsultasi tentang beberapa keputusan yang tertunda, meskipun saya juga harus rela menghadapi kecerewetannya. Tapi karena saya tahu benar karakter orangnya, saya tidak terlalu risau.

Bu, apa yang harus saya lakukan menghadapi situasi demikian. Saya tidak mungkin memintanya berubah, karena memang karakter atasan saya demikian. Ia sebenarnya bukan seorang yang “jahat dan sadis” terhadap karyawan. Tapi lebih karena ia perfek dan mempunyai tuntutan yang tinggi, ditambah dengan beban pikiran yang overload sehingga melihat satu hal tidak beres, langsung “panas” dan akibatnya jadi sering uring-uringan demikian. Terima kasih.     Sudarta, Surabaya

Jawaban:

Sdr. Sudarta, saya salut dengan kemampuan Anda menghadapi situasi tidak menyenangkan di kantor Anda. Kemampuan Anda untuk mengenali karakter pimpinan memudahkan Anda dalam menghadapinya. Jika orang lain mencoba menghindari situasi sulit, Anda mencari akar masalahnya dan kemudian menyiasatinya. Sehingga meskipun atasan uring-uringan, Anda relatif tidak terganggu. Tapi sebenarnya kondisi demikian jika berlangsung lama juga akan  berbahaya.  Pelan tapi pasti  Anda akan terkontaminasi dan ketika sadar tiba-tiba sudah menjadi  penyakit kronis.

 Terkait dengan situasi yang Anda hadapi, Daniel Goleman, Richard Boyatzis dan Annie McKee dalam bukunya Primal Leadership, Realizing the Power of Emotional Intelligence (2002),  menyatakan bahwa tugas emosi pemimpin bersifat primal (utama). Tidak diragukan bahwa para pemimpin sejati – entah Kepala Adat atau Ketua Suku – mendapatkan kedudukannya terutama karena kemampuan mereka menggerakkan emosi. Di dalam sejarah dan budaya manapun, pemimpin kelompok manusia adalah seorang yang menjadi tumpuan dalam mencari kepastian dan kejelasan ketika menghadapi ketidakpastian atau ancaman. Pemimpin selalu orang yang bertindak sebagai pembimbing emosi kelompok.

Dalam organisasi modern, tugas pemimpin terkait dengan emosi tetap merupakan tugas terdepan di antara banyak tugas kepemimpinan lainnya, yaitu menggerakkan emosi anggota tim ke arah positif. Selain itu juga menyingkirkan “kabut asap”  yang terbentuk oleh emosi beracun. Pemimpin harus bisa mendorong emosi orang-orang yang dipimpinnya  ke arah antusiasme. Karena pengikut membutuhkan empati/dukungan dari seorang pemimpin. Jika pemimpin sering uring-uringan, bisa dikatakan ia sendiri kurang mampu mengendalikan dorongan emosi negatif yang mengganggunya. Alih-alih memancing sisi terbaik dari masing-masing orang, ia malah menebarkan benih dissonance karena tindakannya justru menggerakkan emosi ke arah negatif. Orang secara tidak sadar didorong ke arah kecemasan, ketidaknyamanan dan kemarahan.

Mekanisme yang terjadi sebenarnya  sesuai dengan sifat loop terbuka sistem limbik. Dimana sinyal emosi yang dikirimkan oleh seorang yang berpengaruh secara otomatis bergeser ke emosi orang yang berada di sekitarnya,.bahkan tanpa ada kontak fisik atau kata-kata. Contohnya tiga orang asing duduk saling berhadapan tanpa berbincang-bincang selama satu atau dua menit. Maka orang yang paling bisa mengungkapkan emosinya akan menularkan suasana hatinya kepada kedua orang lainnya tanpa ia harus mengucapkan sepatah katapun.

Yang demikian ini juga terjadi dalam proses kepemimpinan. Setiap orang mengamati Bos Pemimpinlah yang memainkan peran penting dalam menentukan emosi bersama. Pemimpin biasanya lebih banyak berbicara dibandingkan orang-orang lainnya, dan apa yang dikatakan  didengarkan dengan lebih cermat. Selain itu, cara pandang pemimpin terhadap berbagai hal seringkali mempunyai bobot khusus. Maka dalam menghadapi situasi tertentu pemimpinlah yang mengelola arti bagi kelompok. Seperti efek domino yang menjalar ke seluruh perusahaan, bahkan ketika bos bekerja di ruangan tertutup, sikapnya akan mempengaruhi suasana hati bawahannya.

Jika pemimpin resmi di perusahaan Anda kurang mempunyai kredibilitas untuk menjadi pemimpin emosi, maka biasanya akan tampil pemimpin emosi de facto yang lain. Siapakah itu, yaitu orang-orang yang bisa dipercayai dan dihargai oleh kelompoknya. Karena orang ini yang akan dapat membentuk reaksi emosi orang-orang lainnya. Nampaknya Anda punya bakat untuk melakukannya. Jika demikian, tentunya Anda tidak keberatan melakukannya untuk menyelamatkan agar situasi kerja menjadi sehat dan bergairah. Anda juga yang nantinya akan memetik hasil karena kekompakan tim yang Anda bina… Selamat bertugas. (*)